Evav.News,- Operasi Laga Jaya 21 Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada III berhasil menangkap kapal ikan KM Nadia Jaya 01 beserta nahkoda dan 14 anak buah kapal (ABK) di Pulau Serua, Kabupaten Maluku Barat Daya, Selasa (27/4/2021).

Komandan Guspurla Koarmada III Laksma TNI Rudhi Aviantara menjelaskan, penangkapan ini dilakukan atas perintah Panglima Koarmada III.

Berdasarkan informasi dari Lantamal IX Ambon bahwa sesuai laporan dari masyarakat Pulau Serua, bahwa terjadi aktivitas pengeboman ikan yang merusak hampir seluruh terumbu karang di kawasan tersebut.

"Akibat aktivitas pengeboman yang dilakukan hampir setahun terakhir itu, telah memusnahkan ikan dan biota laut lainnya. Dampak lain adalah berpotensi menghilangkan mata pencaharian bagi nelayan setempat," Ungkap Rudhi dalam konferensi pers di Dermaga Martadinata Mako Lanal Tual, Kamis (29/4/2021).


Rudhi menuturkan, setelah pasukan tiba di Pulau Serua pada 27 April sekitar pukul 10.00 WIT, mereka berpapasan dengan KM. Nadia Jaya 01. Dalam jarak sekitar 5 kilo meter, kapal motor berukuran 25 GT asal Sulawesi Selatan itu langsung balik arah ke timur pulau untuk bersembunyi.

Melihat itu, pasukan yang menggunaka  Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Malahayati 362 kemudian mendekati sebuah kampung di sekitar dan mengumpulkan informasi tambahan.

“Setelah kami tindaklanjuti informasi dari masyarakat ternyata kami temukan ada kapal, KM. Nadia Jaya 01, yang akan melaksanakan aktivitas pengeboman ikan,” ujar Rudhi.

Lanjut Rudhi, dari hasil pemeriksaan, tim menemukan bahan peledak berbahan urea yang dimasukan dalam 48 botol kaca, 17 jerigen, dan 10 botol plastik, serta ratusan detonator rakitan dari kembang api sebagai pemicu bahan peledak, terdapat 1 ton ikan ekor kuning, disertai dengan dokumen kapal yang sudah tidak berlaku.

"Atas perbuatannya, 15 ABK kapal itu melanggar pasal 84  ayat 1 juncto pasal 8 ayat 1 UU nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 6 tahun. Kemudian juga melanggar pasa 85 ayat 1 juncto pasal 9 ayat 1 UU nomor 45 tahun 2009 tentang perikanan dengan ancaman hukuman pidana penjara maksimal 5 tahun," Papar Rudhi.

Sementara untuk proses hukum selanjutnya, nahkoda dan 14 ABK ditahan di Lanal Tual untuk menunggu penyelidikan.

Rudhi mengimbau kepada nelayan untuk berhenti menggunakan alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, karena hanya akan merusak lingkungan dan menghilangkan mata pencaharian nelayan. Serta meminta kepada masyarakat agar melaporkan aktivitas penangkapan ikan ilegal dan tidak ramah lingkungan kepada aparat.

“Jangan takut untuk melaporkan kepada aparat TNI AL atau instansi terkait bila menemukan aktivitas penangkapan ikan secara ilegal,” Tutup Rudhi.(EN02)

Posting Komentar

Google+